Earned Value Management.
Apakah itu Earned Value Management (selanjutkan akan disebut sebagai EVM saja untuk lebih mudahnya ya), mari kita lihat dulu peran dari EVM itu sendiri. Feedback merupakan hal yang kritikal dalam penanganan sebuah proyek. Feedback yang diinginkan seorang manajer proyek adalah feedback yang tepat waktu dan sasaran. Sehingga manajer proyek bisa mengambil keputusan untuk menjaga kelangsungan proyek agar tepat waktu dan dalam biaya yang sudah ditentukan.
EVM sudah membuktikan kemampuannya sebagai metode yang sangat efektif untuk mengukur performance sebuah proyek.
Dalam buku yang diterbitkan oleh PMI - Practice Standard of Earned Value Management disebutkan bahwa EVM merupakan sebuah "management with light on" karena dengan metode ini kita bisa melihat bagaimana kondisi proyek saat ini dan bagaimana akhirnya.
Dalam buku yang diterbitkan oleh PMI - Practice Standard of Earned Value Management disebutkan bahwa EVM merupakan sebuah "management with light on" karena dengan metode ini kita bisa melihat bagaimana kondisi proyek saat ini dan bagaimana akhirnya.
Nah, apa saja peran dari EVM itu?
Berikut adalah beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan dari seorang manajer proyek yang dapat kita jawab dengan metode EVM:
- apakah proyek yang sedang berjalan akan selesai lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang sudah ditentukan
- seberapa efisien waktu yang kita gunakan untuk menjalankan sebuah proyek
- seperti apa sebuah proyek diselesaikan
- apakah biaya yang dikeluarkan sesuai dengan budget yang tersedia
- apakah kita menggunakan resource (material, manpower, dan lainnya) dengan efisien
- berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk sisa pekerjaan
- berapa total biaya keseluruhan proyek
- pada saat proyek sudah selesai, apakah kita akan mengeluarkan biaya lebih besar atau lebih kecil dari perkiraan awal
Jika pada pelaksanaannya sebuah proyek mengalami keterlambatan waktu pengerjaan dan anggaran lebih besar, dengan metode EVM seorang project manager bisa melihat
- dimana dan bagaimana masalah yang terjadi
- apakah masalah yang terjadi cukup serius atau tidak
- bagaimana cara agar project kembali sesuai dengan rencana
Agar metode EVM dapat digunakan secara efektif, kita harus melihat keterkaitannya dalam sebuah project management.
Dalam project management Book of Knowledge process group ada 5 proses group yaitu: inisiasi (initiating), perencanaan (planning), pengerjaan (executing), pengontrolan (controlling) dan penutup (closing), yang paling utama dari 5 proses tersebut dalam Project management yaitu: Perencanaan, Pengerjaan dan Pengontrolan.
Dalam project management Book of Knowledge process group ada 5 proses group yaitu: inisiasi (initiating), perencanaan (planning), pengerjaan (executing), pengontrolan (controlling) dan penutup (closing), yang paling utama dari 5 proses tersebut dalam Project management yaitu: Perencanaan, Pengerjaan dan Pengontrolan.
Dalam proses perencanaan yang dibahas hanya hal berikut:
- pekerjaan apa yang dilakukan (scope) dan dimana munculnya (work breakdown structure)
- siapa yang akan mengerjakan dan mengatur pekerjaan (resource matrix)
- kapan pekerjaan akan dilakukan (schedule)
- berapa banyak pekerja, material, dan resource lainnya yang diperlukan (cost)
Lingkup kerja, waktu pengerjaan dan biaya yang dibutuhkan diintegrasikan dan dicatat dalam apa yang disebut sebagai performance measurement baseline (PMB). EVM diimplementasikan dengan mempertimbangkan setiap tugas, lingkup kerja, waktu dan biaya dari sebuah proyek.
Dalam proses Pengerjaan yang utama adalah bagaimana melakukan pekerjaan yang sudah direncanakan dan menginformasikan ke manager.
Pada proses pengerjaan ini EVM membutuhkan catatan dari berapa resource yang digunakan dari setiap element pekerjaan yang dilakukan. Actual cost dibutuhkan untuk memberikan gambaran biaya yang dikeluarkan dan membandingkannya dengan yang ditetapkan dalam performance measurement baseline (PMB).
Pada proses pengerjaan ini EVM membutuhkan catatan dari berapa resource yang digunakan dari setiap element pekerjaan yang dilakukan. Actual cost dibutuhkan untuk memberikan gambaran biaya yang dikeluarkan dan membandingkannya dengan yang ditetapkan dalam performance measurement baseline (PMB).
Pada proses pengendalian/pengontrolan akan fokus pada bagaimana project dimonitor dan dilaporkan, yang mencakup lingkup kerja, waktu pengerjaan, dan biaya. Dengan kata lain proses pengendalian/pengontrolan adalah proses untuk menjaga pelaksanaan proyek dan hasilnya dalam batasan rencana kerja yang dapat di toleransi.
Pada proses pengendalian ini EVM membutuhkan progress fisik dari sebuah proyek yang disebut dengan earned value. Dengan adanya data earned value, planned value dari PMB dan actual cost, project team bisa melakukan EVM analysis.
Pada proses pengendalian ini EVM membutuhkan progress fisik dari sebuah proyek yang disebut dengan earned value. Dengan adanya data earned value, planned value dari PMB dan actual cost, project team bisa melakukan EVM analysis.
Sebagai summary EVM dapat memfasilitasi untuk menjaga performance dari sebuah proyek dari sisi waktu dan biaya.
3 komponen dari EVM adalah Planned Value, Earned Value dan Actual Cost. Ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lainnya untuk melakukan analisa EVM.
Planned Value (PV)
Planned Value adalah penilaian terhadap seberapa jauh proyek yang harus dilakukan sampai pada periode atau masa tertentu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.
Planned Value merupakan refleksi numerik yang menggambarkan anggaran pekerjaan yang dijadwalkan untuk dikerjakan.
Planned Value dikenal juga dengan nama Budgeted Cost of Work Schedule. Planned Value dalam Kurva S menggambarkan kumulatif resource yang dianggarkan sepanjang proyek berlangsung.
Planned Value merupakan refleksi numerik yang menggambarkan anggaran pekerjaan yang dijadwalkan untuk dikerjakan.
Planned Value dikenal juga dengan nama Budgeted Cost of Work Schedule. Planned Value dalam Kurva S menggambarkan kumulatif resource yang dianggarkan sepanjang proyek berlangsung.
Earned Value (EV)
Earned Value merupakan gambaran dari suatu proyek pada periode tertentu, dikenal juga dengan Budgeted Cost of Work Performed (BCWP).
Actual Cost (AC)
Actual Cost atau disebut juga dengan Actual Cost of Work Performed (ACWP), adalah indikasi seberapa banyak resource yang digunakan atau biaya yang dikerluarkan untuk pekerjaan yang telah dilakukan sampai saat ini atau sampai pada periode tertentu.
![]() |
| Contoh Rencana Kerja PT. A. |
![]() |
| Contoh kumulatif Planned Value, Earned Value and Actual Cost |
Earned value seperti yang disampaikan sebelumnya adalah ukuran pencapaian dari sebuah pekerjaan. Teknik pengukuran pencapaian suatu pekerjaan ditentukan dalam project planning, dan menjadi dasar penghitungan performa dari suatu project saat berjalan.
Teknik pengukuran EV didasarkan pada hal berikut:
Teknik pengukuran EV didasarkan pada hal berikut:
- durasi dari pekerjaan/usaha
- sifat produk yang dihasilkan dapat dihitung
Ada 3 "effort" yang dilakukan pada EV, yaitu discrete effort, apportioned effort dan level of effort. Untuk pekerjaan yang bersifat bisa dihitung (tangible) menggunakan discrete effort, sedang untuk produk atau pekerjaan yang tidak dapat dihitung (intangible) menggunakan apportioned effort atau level of effort.
Untuk discrete effort, EV teknik yang dipilih untuk mengukur performa pekerjaan berdasarkan durasi dari suatu pekerjaan, jika pekerjaan tersebut durasinya cukup pendek, katakanlah selama 2 minggu saja, maka metoda yang digunakan adalah "fixed formula", dimana progress ditentukan pada awal pekerjaan dengan angka yang tetap, sedangkan sisanya pada akhir pekerjaan. Misalnya kita tentukan diminggu pertama dari suatu pekerjaan 50% progressnya, kemudian saat pekerjaan selesai adalah 50% sisanya.
Untuk pekerjaan dengan durasi lebih dari 2 minggu, kita menggunakan metode yang dikenal dengan weighted milestone dan percent complete.
Untuk discrete effort, EV teknik yang dipilih untuk mengukur performa pekerjaan berdasarkan durasi dari suatu pekerjaan, jika pekerjaan tersebut durasinya cukup pendek, katakanlah selama 2 minggu saja, maka metoda yang digunakan adalah "fixed formula", dimana progress ditentukan pada awal pekerjaan dengan angka yang tetap, sedangkan sisanya pada akhir pekerjaan. Misalnya kita tentukan diminggu pertama dari suatu pekerjaan 50% progressnya, kemudian saat pekerjaan selesai adalah 50% sisanya.
Untuk pekerjaan dengan durasi lebih dari 2 minggu, kita menggunakan metode yang dikenal dengan weighted milestone dan percent complete.
to be continued....

