Menu

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Sabtu, 15 Oktober 2016

Earned Value Management (EVM)

Earned Value Management.

Apakah itu Earned Value Management (selanjutkan akan disebut sebagai EVM saja untuk lebih mudahnya ya), mari kita lihat dulu peran dari EVM itu sendiri. Feedback merupakan hal yang kritikal dalam penanganan sebuah proyek. Feedback yang diinginkan seorang manajer proyek adalah feedback yang tepat waktu dan sasaran. Sehingga manajer proyek bisa mengambil keputusan untuk menjaga kelangsungan proyek agar tepat waktu dan dalam biaya yang sudah ditentukan.
EVM sudah membuktikan kemampuannya sebagai metode yang sangat efektif untuk mengukur performance sebuah proyek.
Dalam buku yang diterbitkan oleh PMI - Practice Standard of Earned Value Management disebutkan bahwa EVM merupakan sebuah "management with light on" karena dengan metode ini kita bisa melihat bagaimana kondisi proyek saat ini dan bagaimana akhirnya.
Nah, apa saja peran dari EVM itu?

Berikut adalah beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan dari seorang manajer proyek yang dapat kita jawab dengan metode EVM:
  • apakah proyek yang sedang berjalan akan selesai lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang sudah ditentukan
  • seberapa efisien waktu yang kita gunakan untuk menjalankan sebuah proyek
  • seperti apa sebuah proyek diselesaikan
  • apakah biaya yang dikeluarkan sesuai dengan budget yang tersedia
  • apakah kita menggunakan resource (material, manpower, dan lainnya) dengan efisien
  • berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk sisa pekerjaan
  • berapa total biaya keseluruhan proyek
  • pada saat proyek sudah selesai, apakah kita akan mengeluarkan biaya lebih besar atau lebih kecil dari perkiraan awal
Jika pada pelaksanaannya sebuah proyek mengalami keterlambatan waktu pengerjaan dan anggaran lebih besar, dengan metode EVM seorang project manager bisa melihat
  • dimana dan bagaimana masalah yang terjadi
  • apakah masalah yang terjadi cukup serius atau tidak
  • bagaimana cara agar project kembali sesuai dengan rencana
Agar metode EVM dapat digunakan secara efektif, kita harus melihat keterkaitannya dalam sebuah project management.
Dalam project management Book of Knowledge process group ada 5 proses group yaitu: inisiasi (initiating), perencanaan (planning), pengerjaan (executing), pengontrolan (controlling) dan penutup (closing), yang paling utama dari 5 proses tersebut dalam Project management yaitu: Perencanaan, Pengerjaan dan Pengontrolan.
Dalam proses perencanaan yang dibahas  hanya hal berikut:
  • pekerjaan apa yang dilakukan (scope) dan dimana munculnya (work breakdown structure)
  • siapa yang akan mengerjakan dan mengatur pekerjaan (resource matrix)
  • kapan pekerjaan akan dilakukan (schedule)
  • berapa banyak pekerja, material, dan resource lainnya yang diperlukan (cost)
Lingkup kerja, waktu pengerjaan dan biaya yang dibutuhkan diintegrasikan dan dicatat dalam apa yang disebut sebagai performance measurement baseline (PMB). EVM diimplementasikan dengan mempertimbangkan setiap tugas, lingkup kerja, waktu dan biaya dari sebuah proyek.
Dalam proses Pengerjaan yang utama adalah bagaimana melakukan pekerjaan yang sudah direncanakan dan menginformasikan ke manager.
Pada proses pengerjaan ini EVM membutuhkan catatan dari berapa resource yang digunakan dari setiap element pekerjaan yang dilakukan. Actual cost dibutuhkan untuk memberikan gambaran biaya yang dikeluarkan dan membandingkannya dengan yang ditetapkan dalam performance measurement baseline (PMB).
 Pada proses pengendalian/pengontrolan akan fokus pada bagaimana project dimonitor dan dilaporkan, yang mencakup lingkup kerja, waktu pengerjaan, dan biaya. Dengan kata lain proses pengendalian/pengontrolan adalah proses untuk menjaga pelaksanaan proyek dan hasilnya dalam batasan rencana kerja yang dapat di toleransi.
Pada proses pengendalian ini EVM membutuhkan progress fisik dari sebuah proyek yang disebut dengan earned value. Dengan adanya data earned value, planned value dari PMB dan actual cost, project team bisa melakukan EVM analysis.
Sebagai summary EVM dapat memfasilitasi untuk menjaga performance dari sebuah proyek dari sisi waktu dan biaya.
3 komponen dari EVM adalah Planned Value, Earned Value dan Actual Cost. Ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lainnya untuk melakukan analisa EVM.

Planned Value (PV)

Planned Value adalah penilaian terhadap seberapa jauh proyek yang harus dilakukan sampai pada periode atau masa tertentu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.
Planned Value merupakan refleksi numerik yang menggambarkan anggaran pekerjaan yang dijadwalkan untuk dikerjakan.
Planned Value dikenal juga dengan nama Budgeted Cost of Work Schedule. Planned Value dalam Kurva  S menggambarkan kumulatif resource yang dianggarkan sepanjang proyek berlangsung.

Earned Value (EV)

Earned Value merupakan gambaran dari suatu proyek pada periode tertentu, dikenal juga dengan Budgeted Cost of Work Performed (BCWP).

Actual Cost (AC)

Actual Cost atau disebut juga dengan Actual Cost of Work Performed (ACWP), adalah indikasi seberapa banyak resource yang digunakan atau biaya yang dikerluarkan untuk pekerjaan yang telah dilakukan  sampai saat ini atau sampai pada periode tertentu.

Contoh Rencana Kerja PT. A.
Contoh kumulatif Planned Value, Earned Value and Actual Cost


Earned value seperti yang disampaikan sebelumnya adalah ukuran pencapaian dari sebuah pekerjaan. Teknik pengukuran pencapaian suatu pekerjaan ditentukan dalam project planning, dan menjadi dasar penghitungan performa dari suatu project saat berjalan.
Teknik pengukuran EV didasarkan pada hal berikut:
  • durasi dari pekerjaan/usaha
  • sifat produk yang dihasilkan dapat dihitung
Ada 3 "effort" yang dilakukan pada EV, yaitu discrete effort, apportioned effort dan level of effort. Untuk pekerjaan yang bersifat bisa dihitung (tangible) menggunakan discrete effort, sedang untuk produk atau pekerjaan yang tidak dapat dihitung (intangible) menggunakan apportioned effort atau level of effort.
Untuk discrete effort, EV teknik yang dipilih untuk mengukur performa pekerjaan berdasarkan durasi dari suatu pekerjaan, jika pekerjaan tersebut durasinya cukup pendek, katakanlah selama 2 minggu saja, maka metoda yang digunakan adalah "fixed formula", dimana progress ditentukan pada awal pekerjaan dengan angka yang tetap, sedangkan sisanya pada akhir pekerjaan. Misalnya kita tentukan diminggu pertama dari suatu pekerjaan 50% progressnya, kemudian saat pekerjaan selesai adalah 50% sisanya.
Untuk pekerjaan dengan durasi lebih dari 2 minggu, kita menggunakan metode yang dikenal dengan weighted milestone dan percent complete.
 to be continued....

Sabtu, 08 Oktober 2016

Hello World

Apa kabar pembaca yang budiman?
Masih berminat untuk mendalami bahasa pemograman yang menjadi idola bagi para webster karena keunikan dan kemampuannya untuk menciptakan aplikasi website yang dinamis dan kompleks? Seperti yang saya sampaikan pada tulisan saya sebelumnya bahwa saya akan berbagi ilmu saya yang hanya segelintir ini untuk membuat web page dengan menggunakan kode PHP.

Jika teman-teman sebelumnya sudah pernah mengenal perintah-perintah dasar untuk html (hypertext markup language), akan sangat membantu sekali. Karena perintah-perintah PHP itu bisa disisipkan dimana saja dalam kerangka html.
Kita mulai saja ya.. silahkan disiapkan secangkir kopi dan sedikit panganan.. jangan kebanyakan ya..karena nanti teman-teman malah sibuk dengan cemilannya dari pada belajarnya.. :D :D
Sebelum kita menulis skrip PHP, ada beberapa persiapan yang harus kita lakukan. Untuk menjalankan perintah-perintah PHP kita memerlukan web server yang bisa menerjemahkan bahasa bahasa PHP menjadi sebuah halaman web.  Kode PHP tidak seperti html yang bisa dijalankan jika aplikasi web server tidak terpasang dikomputer teman-teman ataupun di server.
Nah untuk aplikasi web server banyak sekali pilihannya seperti XAMPP, WAMP, USBWebserver dan lain sebagainya. Silahkan googling sendiri. Secara pribadi saya lebih sering menggunakan USBWebserver karena tidak perlu di install alias portable sesuai dengan namanya. Untuk sample-sample di dalam blog ini saya menggunakan USBWebserver.
Untuk lebih detail mengenai installasi webserver silahkan dicari sendiri ya.. :).
Kemudian silahkan dicari applikasi untuk editor kode, seperti notepad+, dreamweaver, code lobster, phpdesigner dan lain sebagainya.
PHP seperti bahasa pemograman web lainnya juga mempunyai sintaks penulisan dengan tanda khusus seperti:
  • <?php .... ?>
  • <?........?>
  • <script language="php>......</script>
  • <% ....%>
Dari sintaks-sintaks diatas, yang paling sering digunakan adalah <?php ... ?> atau <?.....?>.
Sebagai pemula yang sering digunakan oleh para web master adalah membuat perintah untuk menampilkan 2 kata-kata sakti yaitu "Hello World".
2 macam yang bisa digunakan untuk menampilkan string pada PHP yaitu: echo atau print. Bagaimana caranya? Silahkan di lihat sample berikut.
Silahkan dijalankan applikasi web servernya, kemudian buka aplikasi web editor yang teman-teman miliki, jika tidak ada bisa juga menggunakan notepad bawaan dari windows.
Ketikkan atau copy paste kode berikut kedalam web editor, kemudian buat folder contoh sebagai sub folder dari root (root folder ada didalam folder USBWebserver).
<?php
echo 'Hello World';
?>
Begitu selesai silahkan di simpan kembali, kemudian buka web browsernya, ketikkan http://localhost/contoh/index.php. Silahkan dilihat hasilnya..Sederhana sekali bukan?
Sekian dulu ya.. semoga bermanfaat bagi teman-teman dan juga bagi saya sendiri tentunya.
Wassalam.

PHP (Personnal Home Page)

PHP adalah server-side script yang digunakan untuk pengembangan web. PHP atau Personnal Home Page pada awalnya dikembangkan oleh Rasmus pada tahun 1995, dengan nama Form Interprete (FI). Kemudian beliau merelease kode sumbernya untuk umum. Tindakan ini disambut baik oleh para programmer yang ada untuk pengembangan lebih lanjut.

Pada tahun 1997, PHP mengimplementasikan bahasa C dan direlease ke public dalam versi ke 2. Pada tahun yang sama sebuah perusahaan bernama Zend menulis ulang kode sumbernya dengan lebih bersih dan lebih baik, sehingga prosesnya lebih cepat. Versi keluaran Zend kemudian direlease pada bulan Juni 1998, mereka menamainya dengan PHP: Hypertext Protocol (PHP 3.0).
Pada pertengahan tahun 1999, Zend merilis versi 4 PHP, yang sangat banyak digunakan oleh para pengembang database berbasis web, karena memiliki kemampuan untuk mengembangkan aplikasi web yang cukup rumit atau kompleks, namun tetap berjalan dengan stabil dan cepat.
PHP kemudian berkembang menjadi bahasa pemograman yang berorientasikan obyek atau dikenal dengan OOP (object oriented programming). Perubahan yang sangat signifikan ini direlease pada PHP 5.
Itulah sekilas tentang PHP. Pada tulisan lainnya akan kita lanjutkan dengan bagaimana cara-cara untuk menjalankan atau membuat aplikasi web sederhana dengan menggunakan PHP.